Gara-gara Bubur Pedas
Oleh. Dilla Muniarty
XI Broadcasting
Seorang wanita belia berusia 18 tahun yang bernama Rishel baru pertama kali tiba di Pontianak bersama temannya. Ia sangat ingin sekali merasakan masakan-masakan daerah yang terkenal di Pontianak terutama bubur pedas. Saking asyiknya membayangkan bubur pedas, tiba-tiba…
“Fadly?” tanya Rishel kaget.
“Rishel? Eh, sudah lama tidak bertemu setelah kamu pindah ke Jakarta.” kaget Fadly teringat.
“Sama, dulu pas SMP kamu itu ‘kan gendut.”
“kamu disini dengan siapa, Shel?” tanya Fadly.
“dengan temen. Itu dia…”
“Eh, Rishel ini siapa?”
“teman SMP-ku Na, Fadly.”
“kenalkan, saya Fadly.”
“saya Nana. Nana mau nanya, tempat penginapan terdekat di Bandara dimana ya?” tanya Nana.
“Oh, Kebetulan sekali. Saya tunjukkan jalannya.”
“terima kasih.” Lalu Rishel dan Nanapun mengikuti Fadly ke tempat penginapan yang ia maksud. Sesampainya di penginapan ia disambut oleh nenek-nenek dan ibu-ibu yang mengurusi penginapan tersebut. Beberapa jam saat sedang makan malam, tiba-tiba listrik padam. Rishel dan Nana panik dan mencari toilet untuk mencuci tangan. Saat listrik kembali hidup, mereka kaget saat yang berada didepannya adalah dispenser. Ibu-ibu yang melihatnya langsung cekikikan. Dengan menahan rasa malu, merekapun segera menuju ke toilet.
Keesokan harinya, merekapun pergi bersama Fadly berkeliling kota Pontianak. Di sepanjang perjalanan, Rishel melihat banyak toko-toko berjubel di sepanjang jalan Adisucipto dan Jalan Imam Bonjol. Namun ia tidak punya selera belanja seperti wanita lainnya. Merekapun tiba di sebuah rumah makan yang menyediakan bubur pedas. Tapi Rishel kecewa setelah tahu kalau bubur pedas yang ia inginkan sudah habis. Jadi ia hanya memesan es jeruk Pontianak saja sambil merasa kesal karena apa yang ingin ia pesan tidak bisa ia nikmati.
Setelah pulang, ia segera menuju ke kamar yang ia pesan kemarin dan tertidur lelap saking lelahnya. Iapun bermimpi sedang berada di sebuah rumah makan yang tadi ia kunjungi bersama Nana dan Fadly. Namun kali ini justru ia mendapat pesanan bubur pedas dan bahkan ia bisa memesan bubur pedas berkali-kali. Iapun menikmati bubur pedas yang terhidang hingga ia terbangun dari mimpinya dan menyadari kalau ia hampir menelan sisir rambut miliknya. Dengan jijik, ia segera ke kamar mandi dan meludah sejadi-jadinya.
“Cuih! Saking inginnya makan bubur pedas, aku malah mengigit-gigiti sisir rambutku.” Kesal Rishel jijik.
“kenapa Shel?” tanya Fadly tiba-tiba datang.
“itu, mulutku kemasukan nyamuk.” Kata Rishel berbohong.
Tiba-tiba Nenek yang biasa dipanggil Nek Mat membawa semangkuk bubur pedas ke dapur. Sialnya, kaki Nek Mat tersandung pembatas ruangan dan membuat mangkuk terlempar hingga tepat di wajah Rishel. Nana yang baru datang lantas saja tertawa melihat wajah Rishel berlumur kuah bubur pedas diikuti nenek-nenek dan Ibu-ibu yang lain. Fadly hanya cekikikan. Bukannya marah, Rishel malah menikmati kuah bubur pedas yang menodai wajahnya.
“jangan kaget, biarpun aku diberikan makanan apapun. Tetap aku terima dengan lapang dada meski caranya aneh-aneh.” Ujar Rishel meyakinkan.
“kamu nggak marah ‘kan?” tanya Fadly.
“aku nggak akan marah. Soalnya aku sudah terbiasa dikerjai seperti ini di sekolah.” Jawab Rishel sabar.