Entri Populer

Jumat, 19 Agustus 2011


Gara-gara Bubur Pedas
Oleh. Dilla Muniarty
XI Broadcasting

Seorang wanita belia berusia 18 tahun yang bernama Rishel baru pertama kali tiba di Pontianak bersama temannya. Ia sangat ingin sekali merasakan masakan-masakan daerah yang terkenal di Pontianak terutama bubur pedas. Saking asyiknya membayangkan bubur pedas, tiba-tiba… 

“Fadly?” tanya Rishel kaget.
“Rishel? Eh, sudah lama tidak bertemu setelah kamu pindah ke Jakarta.” kaget Fadly teringat.
“Sama, dulu pas SMP kamu itu ‘kan gendut.”
“kamu disini dengan siapa, Shel?” tanya Fadly.
“dengan temen. Itu dia…”
“Eh, Rishel ini siapa?”
“teman SMP-ku Na, Fadly.”
“kenalkan, saya Fadly.”
“saya Nana. Nana mau nanya, tempat penginapan terdekat di Bandara dimana ya?” tanya Nana.
“Oh, Kebetulan sekali. Saya tunjukkan jalannya.”
“terima kasih.” Lalu Rishel dan Nanapun mengikuti Fadly ke tempat penginapan yang ia maksud. Sesampainya di penginapan ia disambut oleh nenek-nenek dan ibu-ibu yang mengurusi penginapan tersebut. Beberapa jam saat sedang makan malam, tiba-tiba listrik padam. Rishel dan Nana panik dan mencari toilet untuk mencuci tangan. Saat listrik kembali hidup, mereka kaget saat yang berada didepannya adalah dispenser. Ibu-ibu yang melihatnya langsung cekikikan. Dengan menahan rasa malu, merekapun segera menuju ke toilet. 

Keesokan harinya, merekapun pergi bersama Fadly berkeliling kota Pontianak. Di sepanjang perjalanan, Rishel melihat banyak toko-toko berjubel di sepanjang jalan Adisucipto dan Jalan Imam Bonjol. Namun ia tidak punya selera belanja seperti wanita lainnya. Merekapun tiba di sebuah rumah makan yang menyediakan bubur pedas. Tapi Rishel kecewa setelah tahu kalau bubur pedas yang ia inginkan sudah habis. Jadi ia hanya memesan es jeruk Pontianak saja sambil merasa kesal karena apa yang ingin ia pesan tidak bisa ia nikmati.
Setelah pulang, ia segera menuju ke kamar yang ia pesan kemarin dan tertidur lelap saking lelahnya. Iapun bermimpi sedang berada di sebuah rumah makan yang tadi ia kunjungi bersama Nana dan Fadly. Namun kali ini justru ia mendapat pesanan bubur pedas dan bahkan ia bisa memesan bubur pedas berkali-kali. Iapun menikmati bubur pedas yang terhidang hingga ia terbangun dari mimpinya dan menyadari kalau ia hampir menelan sisir rambut miliknya. Dengan jijik, ia segera ke kamar mandi dan meludah sejadi-jadinya.

“Cuih! Saking inginnya makan bubur pedas, aku malah mengigit-gigiti sisir rambutku.” Kesal Rishel jijik.
“kenapa Shel?” tanya Fadly tiba-tiba datang.
“itu, mulutku kemasukan nyamuk.” Kata Rishel berbohong.
Tiba-tiba Nenek yang biasa dipanggil Nek Mat membawa semangkuk bubur pedas ke dapur. Sialnya, kaki Nek Mat tersandung pembatas ruangan dan membuat mangkuk terlempar hingga tepat di wajah Rishel. Nana yang baru datang lantas saja tertawa melihat wajah Rishel berlumur kuah bubur pedas diikuti nenek-nenek dan Ibu-ibu yang lain. Fadly hanya cekikikan. Bukannya marah, Rishel malah menikmati kuah bubur pedas yang menodai wajahnya.
“jangan kaget, biarpun aku diberikan makanan apapun. Tetap aku terima dengan lapang dada meski caranya aneh-aneh.” Ujar Rishel meyakinkan.
“kamu nggak marah ‘kan?” tanya Fadly.
“aku nggak  akan marah. Soalnya aku sudah terbiasa dikerjai seperti ini di sekolah.” Jawab Rishel sabar.

Rishelpun akhirnya belajar bahwa apa yang kita inginkan terkadang muncul dengan kejadian yang tanpa terduga dan tak disangka-sangka.

Rabu, 17 Agustus 2011

SIMILE

Simile adalah perbandingan

1. Peserta menulis sebuah puisi, terdiri atas 4 - 7 baris.
2. Di setiap baris ada simile atau perbandingan, dengan menggunakan kata seperti atau mirip.

Contoh :

Suara guruh di langit seperti orang main boling
Gigi pacarku indah teratur mirip biji mentimun
Gugus awan di langit seperti kapas bertebaran
Negara kita berantakan mirip kota dibom habis-habisan

Sumber : Penulisan Puisi - Taufik Ismail   (Modul MMAS)

Tugas Anda ditunggu. Kirim ke sriyanto_smk2@yahoo.co,id


Selasa, 16 Agustus 2011

KEINGINAN

Aku ingin pergi ke Medan
bersma kawan
dengan mobil sedan
membawa durian

Aku ingin punya boneka
berwarna merah muda
memakai tas jingga
membawa mangga

Dilla Muniarty - XI BC

KEINGINAN

Aku ingin menjadi polis wanita
yang bertugas di Yogyakarta
dan mengenakan seragam berwarna coklat muda

Aku ingin pergi ke ranai
untuk merayakan hari raya idul fitri
bersama sanak saudara dab keluarga
dan mengenakan pakaian hijau muda

WIWID ANGGRAINI - XI BC

KEINGINAN

Aku ingin pergi ke Pasir Panjang
yang terletak di Singkwang
Melewati gunung yang tinggi menjulang
dan menikmati hamparan pasir putih yang melayang-layang

Aku ingin pergi ke pasar
dengan sepeda motor
untuk membeli baju
yang berwarna biru

Aku ingin ke pasar Puring Jaya
membeli kerudung berwarna merah muda
untuk dipakai pada hari raya
dan berjalan-jalan di Tugu Khatulistiwa

SITI SEIMA - KELAS XI BROADCASTING

KEINGINAN

1. Mari kita mulai kelas penulisan puisi dengan mengarang bersama. Dalam penulisan puisi kolaborasi ini
    masing masing- masing peserta menulis di satu lembar kertas.
2. Setiap peserta menulis minimum satu baris, maksimum tiga baris puisi.
3. Baris itu dimullai dengan Aku ingin ....
4. Baris itu berisi
    * sebuah warna
    * sebuah manusia
    * sebuah tempat (jalan, desa,kota, negara,benua)
5. Waktu menulis tiga menit.

Contoh:
Aku ingin pergi ke Venezuela dan berjabat tangan dengan Presiden Gus Dur yang berjas wol coklat muda dan memakai dasi merah putih pula.

Sumber : Penilisan Puisi - Taufik Ismail   (Modul Diklat MMAS)



KELAS PENULISAN PUISI


Salah satu bidang pembinaan OSIS SMK 2 Pontianak adalah Bidang Teknologi, Komunikasi dan Informasi. Bidang ini membidangi tugas-tugas pembinaan karya ilmiah remaja dan majalah dinding. Salah satu kegiatan yang mulai dijalankan adalah kegiatan menulis di majalh dinding melalui kegiatan Kelas Penulisan Puisi.

Kelas punulisan puisi merupakan salah satu kegiatan ekstra kurikuler di SMK 2 Pontianak. Kegiatan ini adalah diikuti para siswa yang berminat dan merupakan program wajib bagi siswa jurusan Broadcasting/ Program Penyiaran dan Produksi  Televisi. Selain, bertujuan untuk menyalurkan hobi di bidang sastra, bagi siswa Broadcasting program ini juga merupakan upaya meningkatkan keterampilan menulis di media masa sesuai dengan standar kompetensi yang ada di program ini.

Kelas penulisan puisi merupakan kegiatan menulis puisi dengan mudah dan sederhana. Kegiatan ini didasarkan pada  Modul Pegangan Peserta Diklat Membaca Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS) – Penulisan Puisi karangan Taufik Ismail. Dengan teknik  ini siswa diharap mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui puisi. Dengan upaya ini diharap apresiasi sastra para siswa yang mulai menurun hidup kembali. Harapan akhir adalah dengan sastra siswa menjadi manusia yang lebih berbudaya.